Limestone

Batu Limestone atau yang lebih dikenal sebagai batu gamping atau batu kapur ini adalah batuan sediman yang memiliki komposisi utama mineral kalsit (CaCO3), dolomit CaMg (CO3)2 dan juga argonit (CaCO3). Terbentuknya batu kapur atau yang biasa disebut dengan batu gamping sendiri pada umumnya terdapat 3 cara yakni diantaranya adalah dengan cara organik, mekanik dan terakhir kimia. Batu gamping yang paling banyak ditemui adalah batu gamping yang terbentuk dari proses organik. Dimana batu gamping yang terbentuk dari proses organik ini berasal dari kumpulan endapan siput, ganggang, foraminifera, cangkang kerang, hingga kerangka binatang yang telah mati.

Di Indonesia sendiri batu gamping sangat mudah untuk ditemukan. Hampir diseluruh wilayah Indonesia memiliki batu gamping dengan karakter atau ciri – ciri yang berbeda satu sama lain. Hal ini lantaran dipengarui oleh kondisi masing – masing daerah yang memiliki geologi yang berbeda. Dari beberapa daerah yang ada di Indonesia tambang batu gamping yang paling banyak terdapat didaerah Papua dengan jumlah 244.082,73 juta ton, diikuti sulawesi sebesar 95.518,85 juta ton, kemudian Maluku dan Halmahera yang mencapai 93.345,22 juta ton. Sementara itu dipulau jawa sumber daya batu gamping juga terbilang cukup banyak yakni 12.288,95 juta ton.

Penambangan batu kapur biasanya akan berada diarea – area laut, gua ataupun area lain yang memiliki kandungan batu kapur yang cukup melimpah. Batu kapur akan banyak ditemukan pada area lut dangkal yang memiliki ketenangan dan perairan yang hangat. Hal ini lantaran lingkungan laut demikian merupakan lingkungan yang sangat pad bagi organisme untuk membentuk cangkang kalsium karbonat dan skleton yang merupakan bahan dasar pembentukan batugamping. Organisme yang sudah mati akan membuat cangkan dan skleton yang dimilikinya menumpuk dan mengendap membentuk sedimen yang pada akhirnya akan menjadi batu kapur.

Proses penambangan batu kapur terbilang cukup mudah, para penamang dapat mengambil batu kapur secara langsung yang terdapat di bukit. Oleh karena itu penambangan batu kapur memang tak memerlukan proses pengupasan tanah yang ada diatasnya. Namun jika batu kapur yang akan ditambang memiliki tekstur yang keras, maka penambang biasanya akan menggunakan atal pendukung seperti cangkul, linggis, blencong dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setelah memperoleh bongkahan batu kapur maka hal selanjutnya yang akan dilakukan adalah memecah batu kapur menggunakan palu hingga miliki ukuran yang kecil. Sementara itu untuk sebuah industri atau perusahaan , penambangan batu kapur dilakukan dnegan cara tambang yang terbuka atau sering disebut dengan kuari. Dimana proses tersebut dimulai dengan mengupas tanah penutup yang terdiri dari tanah liat, koral dan juga pasir. Biasnya pengupasan akan dilakukan dengan menggunakan alat bulldozer ataupun power scraper. Lalu dilakukan pemboran dan peledakan hingga mendapatkan ukuran bongkahan yang sesuai. Setelah mendapatkan ukuran bongkahan sesuai maka batu kapur akan diangkut menggunakan alat transportasi seperti dump truck, belt conveyor dan masih banyak lagi yang lainnya.